Jawaban Indonesia atas Ernst Götsch

Investing Opportunities in Indonesia

Jawaban Indonesia atas Ernst Götsch

repong damar
Spread the love

Hutan yang Memberi Makan Manusia

eyesonindonesia

Pada tahun 1980-an, seorang petani asal Swiss bernama Ernst Götsch tiba di perbukitan selatan Bahia, Brasil, yang tanahnya retak akibat kekeringan panjang, dan melakukan sesuatu yang di mata tetangganya tampak seperti tindakan gila. Alih-alih membuka lebih banyak lahan, ia justru menanaminya lebih rapat — pisang di samping eucalyptus, di samping kakao, di samping pohon kayu keras hutan — dan membiarkan seluruh keruwetan itu tumbuh, dipangkas, rontok, lalu membusuk kembali ke dalam tanah. Mata air yang telah kering selama satu generasi mulai mengalir lagi. Kini, lahan pertaniannya seluas 500 hektare, Fazenda Olhos d’Água (“Mata Air”), berdiri sebagai salah satu bukti nyata yang paling sering dikutip dalam pertanian regeneratif: sebuah sistem yang ia sebut pertanian sintropis (syntropic farming), yang dibangun di atas gagasan bahwa lahan pertanian yang dikelola dengan benar tidak kehilangan energi akibat entropi — melainkan mengumpulkannya, sebagaimana hutan muda melakukannya.

Pertanyaan yang wajar muncul: apakah Indonesia — negara dengan kawasan hutan tropis terluas ketiga di dunia, dan masyarakat tani yang telah bertani di bawah pepohonan selama seribu tahun — memiliki sesuatu yang serupa? Jawaban jujurnya lebih menarik daripada sekadar ya atau tidak. Indonesia tidak memiliki satu sosok Ernst Götsch. Yang dimiliki Indonesia adalah beberapa jalur berbeda yang, jika digabungkan, menceritakan kisah yang sangat paralel — satu jauh lebih tua daripada Götsch, satu dimulai kurang lebih pada waktu yang sama dengannya, dan satu lagi secara eksplisit meminjam nama dan metodenya saat ini.

Ernst Götsch

Hutan yang sudah ada lebih dulu: repong damar

Jauh sebelum istilah “pertanian sintropis” dikenal, para petani di pesisir barat Provinsi Lampung, Sumatra, telah melakukan sesuatu yang sangat mirip, dan menyebutnya repong damar — kebun damar.

Sejak akhir abad ke-19, petani kecil di wilayah Krui mulai menanam pohon damar (Shorea javanica, kerabat penghasil getah dari keluarga pohon dipterokarpa raksasa di kawasan itu) di sela-sela kebun padi, kopi, dan buah-buahan mereka. Damar telah lama digunakan sebagai bahan penerangan dan pendempul perahu, serta secara tradisional diperdagangkan sebagai dupa, pewarna, perekat, dan obat, sebelum pabrik pernis dan cat industri di Barat memberinya nilai komersial baru sejak pertengahan abad ke-19. Alih-alih menebang hutan hujan di sekitarnya, para petani menjinakkan strukturnya: mereka membiarkan damar dan pohon-pohon bermanfaat lainnya tumbuh kembali di dalam lahan mereka, hingga kebun itu sendiri — secara fisik maupun ekologis — kembali menjadi hutan.

Para peneliti menggambarkan repong damar sebagai sistem pemanfaatan lahan menyerupai hutan yang dikembangkan petani kecil untuk memenuhi berbagai tujuan sekaligus — ekologis, ekonomi, dan sosial. Karena strukturnya sangat mirip hutan alami, sistem ini mampu menjaga sebagian besar keanekaragaman hayati yang dimiliki hutan alami, sekaligus menghasilkan berbagai sumber pendapatan bagi petani dan para pedagang di sepanjang rantai perdagangan damar. Pada pertengahan 1990-an, survei satelit menemukan kebun damar membentang setidaknya 50.000 hektare di sepanjang pesisir Pesisir — sebuah tudung hutan yang ditanam pohon demi pohon oleh keluarga-keluarga, tanpa program pemerintah mana pun.

Kemiripannya dengan Götsch nyaris mengejutkan. Salah satu bagian paling mencolok dari kisah damar adalah bahwa membangun sistem ini membutuhkan waktu dua puluh hingga dua puluh lima tahun — hampir persis dengan rentang waktu berpuluh-puluh tahun yang dibutuhkan lahan Götsch sendiri untuk berubah dari padang rumput gundul menjadi hutan hujan yang produktif. Kedua sistem sama-sama menolak anggapan bahwa lahan “produktif” dan “hutan” adalah dua hal yang berbeda. Keduanya memanfaatkan spesies perintis yang cepat tumbuh dan bermanfaat untuk menaungi dan melindungi pertumbuhan pohon-pohon yang lebih lambat namun bernilai lebih tinggi. Dan yang terpenting, keduanya diciptakan oleh petani yang bekerja berdasarkan pengamatan cermat, bukan oleh ahli agronomi di laboratorium. Perbedaannya adalah Götsch menyistematisasi metodenya menjadi sebuah filosofi yang dapat diajarkan, lengkap dengan prinsip-prinsip bernama, lokakarya, dan pengikut global, sementara repong damar — selama sebagian besar abad ke-20 — tetap menjadi warisan lokal yang sebagian besar tidak terdokumentasi, diturunkan dari orang tua ke anak, bukan diajarkan dalam sebuah kursus.

Para perintis yang datang kemudian: Bumi Langit dan generasi permakultur

Jika Indonesia memiliki satu sosok yang menempati peran budaya serupa dengan yang dimainkan Götsch di Brasil — orang luar yang menjadi orang dalam, yang meninggalkan kehidupan konvensional untuk membuktikan bahwa hutan bisa menghidupi sebuah keluarga — sosok itu mungkin adalah Iskandar Waworuntu.

Pada tahun 2006, di sebidang lahan kering perbukitan di Imogiri, dekat Yogyakarta, Waworuntu mendirikan apa yang kemudian menjadi Bumi Langit Institute — tiga hektare lahan yang kini berdiri sebagai contoh nyata penerapan permakultur, memadukan kearifan ekologis lokal, teknologi tepat guna, dan praktik spiritual. Pendekatannya secara eksplisit dirancang untuk jangka panjang, dengan memasukkan ratusan spesies tanaman selama kurang lebih lima belas tahun untuk membangun hutan pangan yang mandiri. Sejak itu, lahan tersebut berkembang menjadi semacam tempat ziarah: ribuan peserta, termasuk mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, telah mengikuti Permaculture Design Course selama dua minggu untuk mempelajari langsung desain ekosistem, budi daya organik, dan pengolahan pangan di lokasi.

Kemiripannya dengan peran Agenda Gotsch di Brasil bersifat struktural sekaligus personal. Keduanya dipimpin oleh sosok pendiri yang karismatik, yang memaknai ulang pertanian sebagai praktik filosofis dan spiritual, bukan sekadar mata pencaharian. Keduanya menarik pengunjung dan sukarelawan dari berbagai negara. Keduanya berfungsi lebih sebagai ruang kelas hidup ketimbang sekadar lahan pertanian — tempat orang datang bukan untuk membeli sayuran, melainkan untuk menyaksikan langsung bahwa lahan yang rusak bisa dipulihkan. Permakultur dan pertanian sintropis lebih tepat disebut sepupu ketimbang saudara kembar (permakultur adalah filosofi desain yang lebih luas, mencakup air, energi, dan bangunan, sementara pertanian sintropis adalah metode yang lebih spesifik, dibangun di sekitar suksesi hutan), tetapi fungsi budaya yang dijalankan Bumi Langit di Jawa sangat dekat dengan fungsi yang dijalankan Fazenda Olhos d’Água di Bahia.

Impor langsung: pertanian sintropis, dengan nama aslinya, di Jawa Barat

Indonesia tidak hanya memiliki kemiripan dengan karya Götsch — kini ada pula praktisi yang secara eksplisit menggunakan metode dan istilah-istilahnya. Di lereng Gunung Gede, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah pertanian organik yang dikelola keluarga bernama Sukasantai telah memasukkan pertanian sintropis ke dalam proses transisinya sendiri menjauh dari bahan kimia, dengan menerbitkan penjelasan tentang prinsip-prinsip Götsch untuk pembaca Indonesia, serta menandai lahannya sendiri dengan istilah-istilah yang sama — pertanian sintropis, agroforestri, pertanian regeneratif — yang mendefinisikan gerakannya di Brasil. Ini memang contoh berskala kecil, berbasis penginapan pertanian (farmstay), bukan gerakan nasional, tetapi ini menunjukkan sesuatu yang penting: metode Götsch sendiri, bukan hanya logika dasarnya, kini dengan sengaja dipindahkan ke tanah Indonesia oleh petani yang menemukan gagasannya secara daring dan menyesuaikannya dengan dataran tinggi vulkanik di belahan dunia lain.

Tulang punggung kelembagaan: mengapa Indonesia tak pernah benar-benar meninggalkan agroforestri

Ada jalur keempat yang tidak memiliki satu sosok pun, tetapi mungkin justru lebih penting daripada lahan pertanian mana pun secara individu: infrastruktur riset. World Agroforestry Centre global — kini bergabung dengan Center for International Forestry Research menjadi CIFOR-ICRAF — telah memiliki pusat riset utama di Bogor, Jawa, selama beberapa dekade, dan para peneliti ICRAF-lah yang pertama kali mendokumentasikan dan menamai sistem seperti repong damar untuk dunia luar, serta membantu memperoleh pengakuan pemerintah pada 1998 yang melindungi hak atas tanah petani damar di Krui dalam kawasan hutan negara yang ditetapkan secara resmi.

Hal ini penting karena berarti tradisi agroforestri Indonesia tidak pernah bergantung pada satu perintis karismatik yang harus membuktikan konsepnya dari nol, sebagaimana yang sebagian besar terjadi pada gerakan pertanian sintropis di Brasil. Versi Indonesia berjalan melalui jalur-jalur paralel: tradisi kebun-hutan yang benar-benar kuno dan diciptakan oleh petani (repong damar, bersama sistem-sistem terkait seperti pekarangan rumah di Jawa dan talun-kebun Sunda, yaitu plot rotasi pohon dan tanaman pangan), gerakan permakultur dan spiritualitas modern yang dibangun di sekitar sosok-sosok guru seperti Waworuntu, pertanian-pertanian kecil yang kini secara sadar mengadopsi metode dan istilah Götsch sendiri, serta lembaga ilmiah yang telah empat puluh tahun mempelajari, membela, dan menyebarkan pengetahuan dari semua hal tersebut ke dunia.

Dua jalan menuju hutan yang sama

Brasil dan Indonesia sampai pada kesimpulan yang sangat mirip melalui arah yang berlawanan. Götsch harus menciptakan pertanian sintropis karena sistem-sistem di sekitarnya — padang penggembalaan sapi, monokultur kedelai, perkebunan kakao tebas-bakar — telah menghapus ingatan hutan di wilayah itu. Ia merekonstruksi, dari prinsip-prinsip dasar ekologi, sesuatu yang telah hilang dari lanskap tersebut. Sebaliknya, para petani kecil Indonesia di Krui tidak pernah kehilangan ingatan itu sejak awal; mereka membangun repong damar dengan secara bertahap meminta hutan yang sudah ada untuk juga memberi mereka makan dan penghasilan, satu pohon bermanfaat demi satu pohon.

Hasilnya, Indonesia tidak memiliki padanan persis dari Ernst Götsch — satu tokoh tunggal yang lahan pertaniannya menjadi rujukan global bagi satu metode bernama tunggal. Yang dimiliki Indonesia mungkin justru lebih tangguh: sebuah kesinambungan hidup yang membentang dari hutan damar berusia berabad-abad di Sumatra, melalui permakultur bernuansa spiritual milik Iskandar Waworuntu di Jawa, hingga pertanian-pertanian kecil di dataran tinggi Sukabumi yang kini dengan sengaja mempraktikkan teknik Götsch sendiri di bawah namanya sendiri — semuanya didukung oleh lembaga riset yang selama puluhan tahun, dalam bahasa ilmiah, telah membuktikan apa yang sudah lama diketahui petani Indonesia: bahwa hutan dan lahan pertanian sejatinya tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi dua hal yang berbeda.

eyesonindonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *